Judul: Kepemimpinan Ganjar Pranowo dalam Memanfaatkan Sosial Media Sebagai Sarana Untuk Berkomunikasi dengan Masyarakat.
Karya: Vina Amelia (Mahasiswi Ilmu Pemerintahan 6B)

A. Pendahuluan
Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi di era globalisasi memudahkan seseorang dalam melakukan segala pekerjaan yang ada. Media sosial merupakan salah satu contoh bukti adanya kemajuan teknologi yang banyak sekali digunakan oleh masyarakat, termasuk masyarakat Indonesia. Media Sosial adalah sebuah sebuah platform yang digunakan untuk menghubungkan satu perangkat dengan perangkat lain dengan mudah meskipun jaraknya sangat jauh, pemanfaatan media sosial sangat jelas danya pada zaman sekarang tak terkecuali dalam dunia politik yang ada di Indonesia, salah satu pemimpin yang menggunakan media sosial sebagai sarananya untuk berinteraksi dengan masyarkat yang ada di wilayah yang sangat jauh adalah Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah, beliau menggunakan media sosial dengan sangat baik sehingga banyak masyarakat yang menyukai beliau selain karena kinerjanya, beliau dalam pemanfaatan media sosial untuk berinteraksi dengan masyarakat juga sangat baik.

B. Isi (Pembahasan) 
Dalam memulai karir politiknya Ganjar Pranowo tidak secara langsung menjadi idaman masyarakat, banyak perjuangan yang harus beliau lewati sehingga beliau berada diposisi sekarang. Pada awal kiprahnya Ganjar Pranowo bergabung dalam partai PDI Perjuangan yang mana beliau manfaaatkan wadah tersebut untuk menguatkan kemampuan intelektualnya. Dengan semangat juang yang tinggi perlahan beliau memiliki reputasi yang baik di dunia politik, sehingga oleh partai PDIP beliau di calonkan sebagai anggota DPR RI akan tetapi pada saat itu beliau belum berhasil untuk menduduki kursi DPR RI. Kemudia beliau di berikan tugas sebagai pengganti antar waktu (PAW) menggantikan rekan satu pastainya Jakob Tobing yang saat itu di pilih oleh Megawati untuk menjadi Dubes Indonesia di Korea Selatan. Disaat Ganjar Pranowo menjadi anggota DPR RI Periode 2004-2009 beliau ditugaskan di Komisi V untuk mengawasi Bidang Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Kelautan, Perikanan, dan Pangan (Solekhah, 2021).
Ketika beliau masih menjabat sebagai wakil ketua komisi II DPR RI 2009- 2014, beliau juga diusungkan sebgai bakal calon Guberbur Jawa Tengah yang pada saat itu beliau dipasangkan bersama Heru Sudjatmoko dan kala itu mereka berdua terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah kala itu. Kemudian berlanjut di pilkada serentak tahun 2018 , Ganjar Pranowo mencalonkan diri lagi sebagai Gubernur Jawa Tengah untuk periode yang kedua dengan menggandeng Taj Yasin. Dan resmi menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah periode kedua pada 5 September 2018 hingga saat ini.
Keberhasilan kerja dalam kepemimpinan Ganjar Pranowo tidak lepas dari ide- ide kretaif yang beliau berikan serta kemampuan berfikir yang sangat cemerlang sehingga menghasilkan sebuah cara komunikasi yang baik dalam dunia kerja. Selain dengan memberikan sebuah gagasan yang cemerlang Ganjar Pranowo juga menggunakan gaya bahasa yang sangat nyaman didengarkan oleh pendengarnya, hal ini dikarenakan beliau menganggap bahwa komunikasi yang sederhana penting dilakukan pada masa sekarang ini. Dalam berkomunikasi dengan masyarakat, Ganjar Pranowo juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk berinteraksi dengan masyarakat nya.
Dalam bergerak dibidang politik Ganjar Pranowo tidak hanya menggunakan media bertatap muka secara langsung akan tetapi juga memanfaatkan media massa seperti Instagran dan Twitter sebagai sarana memberikan edukasi kepada warganya yang tinggal jauh di pedesaan. Selain itu Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa para aktor politik di seluruh dunia telah memanfaatkan media sosial untuk menjalin hubungan dengan konstituen, membentuk diskusi politik, dan berdialog secara langsung dengan masyarakat (Anshari, 2013).
Media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana bersosialisasi dengan demikian media sosial menjadi alat yang ampuh untuk memengaruhi masyarakat dengan lebih cepat karena sekarang ini masyarakat Indonesia cenderung mencari atau mendapatkan informasi dari media sosial. Dengan berbagai keunggulan tersebut media sosial kini digunakan oleh para aktor politik untuk membangun kepercayaan masyarakat, juga sebagai media yang digunakan untuk personal branding di dalam masyarakat. Mereka juga menggunakan media sosial sebagai media yang efektif untuk berkomunikasi dan berinteraksi langsung kepada masyarakat dengan berbagai tujuan yang akan mereka capai.
Dengan perkembangan media sosial yang ada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga tidak ketinggalan zaman dengan kaum milenial zaman sekarang. Ganjar Pranowo merupakan salah satu Gubernur yang aktif dalam menggunakan media sosial untuk berbagi sebuah informasi kepada masyarakatnya sehingga meskipun tidak bertemu secara langsung masyarakatnya bisa mengenal dekat dan mengetahui sosok pemimpin yang mereka pilih. Dengan kesigapan dan responsifnya beliau masyarakat akan merasa senang hal ini dikarenakan masyarakat merasa dihormati dan juga didengarkan aspirasinya oleh pemimpin mereka.
Dalam membalas aduan yang diberikan oleh masyarakat Ganjar tidak langsung membalasnya, akan tetapi Ganjar membalas aduan tersebut menggunakan bahasa yang sopan, santun, dan merakyat sehingga dengan begitu akan mengena dikalangan masyarakat dan juga dengan balasan seperti itu akan membuat masyarakat dekat dengan pemimpinnya (Rahmah, 2021:94-101). Dalam pemanfaatan media komunikasi yang ada , Ganjar Pranowo lebih memilih untuk berinteraksi dengan warganya dengan menggunakan gabungan bahasa yang ada yaitu bahasa Jawa dan juga bahasa Indonesia, yang mana ini memperkuat citra dari Ganjar Pranowo yang memimpin warga Jawa dan tetap melestarikan budaya yang ada sehingga budaya tersebut tidak hilang ditengah perkembangan zaman yang semakin canggih.

C. Kesimpulan 
Dalam pemanfaatan media sosial Ganjar Pranowo mengoptimalkan media ini sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Selain itu juga saran untuk kampanye, interaksi, promosi, dan masih banyak lagi yang lainnya, sehingga dengan begitu warga masyarakat di Jawa Tengah akan merasa terbantu akan adanya media sosial beliau, yang mana ini akan memberikan dampak yang baik untuk membangun citra beliau dalam sosial masyarakat sehingga ketika ada pesta demokrasi beliau telah memiliki tempat di hati rakyat Jawa Tengah sehingga ini akan membuat beliau dengan mudah menjadi pemenang dalam demokrasi tersebut.

 
DAFTAR PUSTAKA
Sholekhah, R. M. M. Sosok Ganjar Pranowo Sebagai Pemimpin Jawa Tengah.
Anshari, F. (2013). Komunikasi Politik di Era Media Sosial. Jurnal Komunikasi, Vol 8 No 1, hal. 91– 101.
Rahmah, Syifaur, (2021), “Personal Branding Ganjar Pranowo untuk Membangun Komunikasi Politik di Media Sosial Instagram”, Jurnal Interaksi : Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. 5, No. 1.
Krisis Kepemimpinan Pemerintah Dalam Masa Pandemi Covid 19
Oleh: Yenni Nur Asyifah (Mahasiswi Ilmu Pemerintahan 6B)

Pandemi Covid-19 menjadi isu kesehatan yang paling menghebohkan seluruh dunia, termasuk Indonesia Covid-19 yang merupakan pandemik global jelas menyebabkan kewaspadaan beragam kalangan, khususnya masyarakat. Pendemi Covid-19 merupakan kejadian yang mengejutkan dunia, yang menyebabkan disorientasi dan anomali masyarakat global. Pandemi Covid-19 dengan ketidakpastiannya juga telah membuat para pemimpin negera di dunia gelagapan dalam memberikan respon. Awalnya pemimpin dalam beberapa level menganggap keadaan krisis suatu hal yang biasa, cenderung menganggap remeh, tercatat kemungkinan dari krisis serta dampak yang ditimbulkan.
Setelah pemimpin menyadari ada dampak dalam kondisi krisis mereka baru mulai merespon. Namun mereka tidak merespon dalam keadaan yang sudah siap, yaitu telah memilki rencana yang telah dibuat sebelumnya. Yang paling penting untuk menghadapi kondisi krisis kesehatan ini menurut Arnold M. dan Herman B. yaitu para pimpinan tertinggi agar memahami telah terjadi krisis besar yang terjadi. Kemungkinan adalah suatu langkah yang sulit, apalagi pada awal kondisi krisis.
Adapun Dalam konteks penanggulangan krisis (crisis management) maka faktor kepemimpinan (leadership) memegang peranan yang sangat krusial. Sebagaimana disampaikan oleh Gene Klann dalam buku Crisis Leadership, kepemimpinan senior dari suatu organisasi merupakan kunci pada saat sebelum, ketika, dan setelah krisis. Kualitas dari seorang pemimpin (leader) dapat menentukan durasi, tingkat keparahan, dan konsekuensi akhir dari krisis. Para pemimpin mampu mengatur j penanggulangan crisis dengan langsung memberikan teladan serta menunjukkan perilaku yang diharapkan selama situasi krisis.
Dengan memperhatikan komponen-komponen pengaruh (terutama komunikasi, kejelasan visi dan nilai-nilai, serta kepedulian), para pemimpin dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap suasana sangat manusiawi dan bermuatan emosi yang menyertai krisis. Sehingga pada gilirannya dapat mengurangi dampak negatif dan durasi krisis untuk kepentingan organisasi (Klann, 2003).
Dari krisis di atas, baik dari kajian etimologi maupun kajian epistemologi, dapat diikhtisarkan menjadi beberapa karakteristik krisis yaitu suatu kondisi dimana: perubahan yang signifikan tidak terelakkan (point of no return atau new normal) dapat berdampak mengancam reputasi, integritas, kelangsungan hidup dan cara suatu organisasi bekerja atau dapat dikatakan sebagai menyerang nilai utama (core value) suatu organisasi penuh dengan ketidakpastian (uncertainty) serta mengancam rasa aman (insecure).
Kepemimpinan merupakan proses yang serupa dengan manajemen dalam banyak hal. Kepemimpinan mencakup pengaruh dan bekerja dengan orang lain, sama seperti manajemen (Northouse, 2013). Dalam hal ini manajemen krisis menurut Coombs (1999) dibagi dalam tiga tahap, yaitu tahap prakrisis, krisis dan pascakrisis.
Pertama, tahap prakrisis terdiri dari tiga subtahap, yakni deteksi sinyal, pencegahan dan persiapan krisis. Kedua, tahap krisis yang dibentuk oleh dua subtahapan, yaitu pengenalan krisis dan penanganan krisis. Pada tahap ini, bagaimana respon organisasi terhadap situasi krisis serta komunikasinya dengan para pemangku kepentingan dan bagaimana organisasi menangani krisis tersebut. Tahap ini mencakup respon organisasi terhadap apa yang sebenarnya terjadi dengan rencana manajemen krisis yang dilaksanakan serta melakukan kajian atau literasi yang tepat. Ketiga, tahap pascakrisis, fokus pada tahapan ini adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi potensi krisis lanjutan. Krisis mungkin tidak sehebat sebelumnya, tetapi organisasi tetap
mengawasi media dan kegiatan kelompok pemangku kepentingan.
Di dalam kepemimpinan terdapat dua teori kepemimpinan yang paling menonjol dalam menjelaskan efektifitas seorang pemimpin yaitu teori kepemimpinan Transformasional dan Transaksional. Berdasarkan penelitian sebelumnya pada situasi krisis model kepemimpinan yang lebih efektif adalah model Transaksional (Odumeru, 2013).
Kepemimpinan, jika berbicara masalah ini dalam pemikiran kita pasti mengasosiasikan pada sosok pemimpin seperti presiden, gubernur, wali kota, bupati, pak camat atau bahkan kepala desa. Dewasa ini telah kita ketahui bahwa bangsa Indonesia mengalami masamasa krisis dalam hal kepemimpinan. Berdasarkan fakta-fakta yang telah terjadi dikalangan pejabat elit negara. Apalagi kita sering mendengarkan berita-berita di TV, media cetak maupun di media sosial. Seperti permasalahan kemiskinan yang kian meningkat, pengangguran yang semakin banyak, angka kriminalitas dan asusila yang semakin merebak dikalangan anak-anak, belum lagi masalah pendidikan yang bergontaganti kurikulum pendidikan, inefisiensi pelayanan publik, dan maraknya kasus korupsi.
Kepemimpinan di Negara Indonesia saat ini memang sedang berada diujung tanduk, lemahnya kesadaran para pamimpin negara dalam menjalankan roda pemerintahan menjadi alasan mendasar. Pemimpin yang seharusnya mengayomi masyarakat, mensejahterakan
masyarakat, meningkatkan perekonomian suatu negara, kini malah menghianati kepercayaan rakyatnya. Para pemimpin negara saling beradu untuk melakukan korupsi, sehingga kesejahteraan rakyatpun mereka abaikan. Inilah yang mengakibatkan rakyat sekarang kurang
percaya bahkan tidak percaya kepada seoarang pemimpin. Karena kepercayaan rakyat telah dihianati oleh para pemimpin negara ini. Maka tak jarang dalam pemilu banyak sekali angka golput. Golput merupakan tanda-tanda dari kurangnya rasa kepercayaan rakyat terhadap pemimpin.
Akibatnya terjadi Krisis kebijakan yang terjadi ini memberikan dampak serius dalam
penangangan pandemi yang efektif. Fakta penyebaran dapat terlihat pada penyebaran virus ini
yang semakin meluas hingga keseluruh wilayah yang ada di negara Indonesia, terus
bertambahnya jumlah pasien positif secara signifikan setiap harinya. Keberhasilan yang menjadi
ukuran dasar penanganan kebijakan pandemik adalah tidak ada tersebar secara lebih jelas dan
berkurangnya secara fatalitas. Unsur pokok yang tidak terpenuhi menunjukkan kegagalan
kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
 Solusi untuk mengatasi krisis kepemimpinan di Indonesia
Mengedepankan nilai keagamaan
Seorang pemimpin hendaknya mengedepankan nilai keagamaan, karena jika pemimpin tersebut mimiliki agama yang kuat dalam arti beliau kuat dalam ketaatannya kepada Tuhan, maka hal-hal penyimpangan yang tidak sesuai dengan kewajiban atau tugas-tugasnya, tersebut tidak akan terjadi. Ini bisa dianggap peryaratan penting oleh seorang calon pemimpin. Bukan hanya wajib beragama
tetapi wajib juga beliau mengerti dan taat kepada Tuhannya.
Dapat memimpin dirinya sendiri
Seseorang harus bisa memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang orang lain. Agar didalam memimpin tidak adanya keraguan dalam bertindak. Jika pemimpin tersebut percaya diri maka tidak akan terpengaruh oleh rayuan-rayuan penyelewengan kepemimpinannya.
Memperbaiki moral
Krisis kepemimpinan berakar dari rendahnya moral para pemimpin. Penyelesaian dari rendahnya moral para pemimpin ini dengan menggunakan prinsip al akhlaqul karimah. Prinsip ini meliputi ash shidqu (benar), al wafa bil’ahd (tepat janji), ta’awun (tolong menolong), al’adalah (keadilan), istiqamah (konsisten). Meningkatkan kualitas pendidikan Perbaikan kepemimpinan bangsa tidak dapat langsung terjadi, memerlukan waktu yang relatif lama. Salah satunya kita perbaiki kualitas pendidikan di Indonesia agar kelak menciptakan generasi muda yang dapat memberikan warna baru dalam memimpin negara ini, sehingga pemasalahan kepamimpinan ini dapat terselesaikan.
Perbaikan hukum di Indonesia
Hukum di Indonesia harus diperbaiki, agar menimbulkan efek jera bagi para pelanggarnya. Selain itu peraturan akan syarat-syarat sebagai pemimpin hendaknya dikaji ulang sehingga muncul seorang pemimpin yang sesuai dengan karakter bangsa ini dan tentunya mampu menyelesaikan permasalahan yang kompleks ini.

Kesimpulan :
Pandemi covid 19 Yang terjadi sudah membuat pemimpin negara gelagepan dalam memberikan respon, karena awalnya mereka menganggap covid 19 remeh. Seperti halnya di Indonesia saat ini sedang berada diujung tanduk, lemahnya kesadaran para pamimpin negara dalam menjalankan roda pemerintahan menjadi alasan mendasar. Pemimpin yang seharusnya mengayomi masyarakat, mensejahterakan masyarakat, meningkatkan perekonomian suatu negara, kini malah menghianati kepercayaan rakyatnya. Seharusnya pemimpin harus bisa segera tanggap, siap dalam menghadapi pandemi covid 19. Adapun solusi yang tepat untuk menyelesaikan krisis kepemimpinan di Indonesia adalah dengan :
Mengedepankan nilai keagamaan
Dapat memimpin dirinya sendiri
Memperbaiki moral
Meningkatkan kualitas pendidikan
Dan perbaikan hukum di indonesia